Ini adalah sebuah kisah tentang seorang gadis . . .
Gadis ini hanyalah gadis polos dan naïf akan rasa yang
disebut cinta. Dadanya berdesir sejenak, tanpa jeda. Jantungnya berdegup seakan
tak ada remnya. Gadis ini tetap diam, walau kekhusyukan solatnya mulai terganggu.
Suara takbir dalam sholatnya berhasil meruntuhkan dinding yang
selama ini ia tutupi. Ini pertama kalinya ia merasakan hal yang aneh karena
suara takbir seseorang.
Selang beberapa hari, kerinduan merajai gadis ini, mulailah
ia mencari-cari kabar tentang lelakinya. Mulailah ia menghubungi dan menanggapi
semua yang dilakukan lelaki itu. Mata hati nya mulai tertutupi oleh rasa sayang
kepada manusia. Sekalipun ia berdoa juga untuk lelakinya.
Gadis ini tak kunjung sadar apa yang ia perbuat. Ia terus
terus terus dan terus mencari kabar dan kabar tentang lelaki itu. Meskipun ia
masih tak berani menatap mata si lelaki.
Hingga suatu saat, tak sengaja ia membaca notes seorang
teman. Teman itu menuliskan, “menjadi seorang gadis itu, jangan agresif
terhadap lelaki”. Satu kalimat yang akan selalu ia ingat. Ternyata apa yang ia
lakukan selama ini salah. Ia sadar, ia terlalu agresif. Terlalu mencari tahu,
terlalu aktif dan terlalu tidak sadar akan apa yang ia perbuat.
Akhirnya ia berhenti untuk mencari tahu. Ia memutuskan untuk
berhenti dari rasa penasaran, rasa yang dimana akan membunuh matahatinya
sendiri. ia ganti semua rasa penasarannya dengan doa. Doa kepada sang pencipta,
doa kepada sang penulis takdir. Ia curahkan semua rasa hatinya. Berharap sang
pencipta akan menjawab semua doa-doanya, disaat yang tepat.